14 Januari 2018 | Sehat

Mencegah Peningkatan Kasus Difteri

  • Oleh dr Patricia Safaryani SpAMKes

Difteri merupakan infeksi akut yang sangat menular. Penyakit ini ditandai dengan pembentukan pseudomembran pada kulit. Dokter Spesialis Anak SMC RS Telogorejo, dr Patricia Safaryani SpAMKes mengatakan, penyakit difteri sebetulnya bisa menyerang siapa pun, tanpa mengenal usia termasuk orang dewasa.

”Yang bisa terserang penyakit difteri adalah semua usia, dan kematian tertinggi itu pada usia muda dan dewasa. Penyebabnya adalah corynebacterium diphtheriae yang merupakan kuman batang gram positif, tidak bergerak, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, mati pada pemanasan 60 derajat celsius, dan tahan dalam keadaan beku dan kering,” jelasnya.

Dia mengatakan, gejala penyakit difteri antara lain demam tidak tinggi, nyeri menelan, terdapat pseudomembran pada tenggorokan, nafas berbunyi, dan leher membengkak. Kondisi semacam ini apabila tidak segera diobati dapat terjadi komplikasi seperti sesak nafas, obstruksi laring, suara sengau, mudah tersedak hingga perubahan denyut jantung yang dapat menyebabkan kematian. Adapun masa penularan dari penderita sejak masa inkubasi dua sampai empat minggu.

”Cara penularan bisa kontak dengan penderita pada masa inkubasi atau saat di mana penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh sampai saat timbulnya penyakit,” ungkapnya. Penyakit ini antara lain menyerang faring, laring, dan hidung. Adakalanya juga menyerang selaput lendir dan kulit. Ciri khas yang muncul pada penderita difteri adalah pembekakan di daerah tenggorokan, sedangkan yang paling rentan terkena penyakit ini yaitu anak-anak di bawah usia 10 tahun.

Pencegahan Khusus

Menurut dr Patricia Safaryani, penyebaran bakteri penyebab difteri dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin. Penularan yang paling umum terjadi melalui percikan ludah, misalkan saat penderita bersin atau batuk. Lalu, barang atau benda yang sudah terkontaminasi oleh bakteri. Adapun cara penanganan difteri dilihat berdasarkan tingkatan atau jenisnya.

Menurut Patricia, pada kasus difteri umum, pasien diisolasi sampai masa akut terlampaui dan dilakukan biakan apusan tenggorokan negatif dua kali berturut-turut. Kemudian, istirahat selama kurang lebih dua sampai tiga minggu serta pemberian cairan. ”Untuk penanganan difteri khusus diberikan antitoksin, antibiotik, kemudian obat-obatan kortikosteroid, dan pengobatan terhadap carrier,” kata Patricia.

Utuk pencegahan secara umum, masyarakat perlu menjaga kebersihan. Bagi orang tua, pengetahuan tentang bahaya difteri penting disampaikan pada anak. Adapun untuk pencegahan secara khusus, bisa diberikan imunisasi DPT dan pengobatan carrier. ”Seorang anak yang menderita difteri, kekebalan terhadap penyakit ini sangat rendah, sehingga masih perlu dilakukan imunisasi,” ujarnya. SMC RS Telogorejo memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin melakukan vaksinasi.

Ketika seseorang terserang penyakit ganas, menular atau sangat mematikan, kekebalan umum yang dimiliki oleh tubuh tidak cukup melindungi. Karena itu, tubuh perlu mengenal mikroorganisme melalui vaksinasi. Agar saat seseorang mengalami serangan dari virus atau bakteri dari penyakit, antibodi dalam tubuh akan mengenali dan langsung menangkalnya.

Vaksinasi dapat dilakukan oleh usia anakanak sampai dengan dewasa. Selain vaksin difteri, SMC RS Telogorejo juga memberikan kemudahan untuk melakukan vaksin Japanese encephalitis (JE), Influenza, Hepatitis B, dan lain-lain. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi call center 24 jam SMC RS Telogorejo di nomor telepon (024) 8646 6000, (024) 8452912, Ph 08112791949 (Dinda).(58)