image

SM/Dian Aprilianingrum

13 Januari 2018 | Suara Banyumas

KIYE LAKONE

Banting Stir

SETELAHlama bekerja di luar negeri, mantan tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, Titi Setiyowati, memilih banting stir menjadi seorang pembatik. Titi merasa terpanggil untuk turut serta mengembangkan industri batik di tanah kelahirannya.

Seperti diketahui, desa di tepi Sungai Serayu ini sejak dahulu dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan batik. "Awalnya sebenarnya melihat potensi di sini sangat bagus, juga ingin membantu perekonomian para pembatik di sini dengan pemberdayaan masyarakat desa," kata wanita yang sebelumnya menjadi TKW selama 16 tahun ini.

Dia mengatakan, dengan menjadi perajin batik dapat dengan leluasa mengekspresikan dirinya. Berbeda ketika masih menjadi TKW, meskipun penghasilannya relatif lebih besar, tidak dapat mengembangkan kemampuannya. Wanita yang tergabung dalam Kelompok Perajin Batik Pringmas ini mengatakan, ingin mengenalkan batik banyumasan ke masyarakat.

Pasalnya, selama ini belum terlalu banyak orang yang mengetahui tentang batik banyumasan. "Di Banyumas masih banyak yang belum tahu mengenai batik banyumasan. Saya ingin mengenalkan batik ke semua orang, syukur sampai ke luar negeri," ujar wanita kelahiran 23 Maret 1978 ini. Perlahan batik produksi Papringan, kata dia, mulai dikenal masyarakat.

Dengan pemasaran secara online yang dilakukannya, makin mudah mengenalkan batik banyumasan hingga ke luar negeri. "Alhamdulillah gabung di Pringmas jadi penjualan makin meningkat, batik banyumasan makin dikenal banyak orang. Pemasaran lebih banyak di dalam negeri seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. Ada juga pesanan dari Malaysia dan Hong Kong," kata dia.

Dia bermimpi masa keemasan batik banyumasan dapat kembali lagi seperti dahulu. Dengan berbagai potensi, khususnya potensi alam, desanya dapat menjadi tempat tujuan utama wisata pada masa yang akan datang. (Fadlan M Zain- 46)

Berita Lainnya