image
07 Januari 2018 | Bincang-bincang

Gayeng Semarang

Sugesti

  • Oleh Abu Su’ud

ASSALAMU’ALAIKUMWarahmatullahi Wabarakatuh.

Pernah sekali waktu saya mendapat kesempatan mengikuti sarasehan antara masyarakat ilmiah, budayawan, dan paranormal. Saya masih ingat benar salah satu penjelasan ketika seorang paranormal menyatakan banyak sekali penampilan dan perkataan seorang paranormal hanya sebagai sugesti untuk meyakinkan profesionalitas mereka.

Misalnya, ketika menyakatakan untuk mengobati seorang pasien, dia telah berpuasa 40 hari. Dia tampil dengan pakaian hitam-hitam lengkap dengan ikat kepala hitam pula. Sambil menghadapi pasien, dia senantiasa memperdengarkan bacaan mantra berupa kalimat thoyyibah.

Tangan selalu memutar-mutar cincin berpermata besar. Jika paranormal itu melakukan di ruang praktik milik sendiri, ruangan itu pun telah didesain sedemikian rupa, sehingga menimbulkan aroma mistis dengan pernakpernik serta didukung suasana mistis pula.

Ketahuilah, Bapak dan Ibu sekalian, semua itu sebagai upaya memberikan sugesti kepada para pasien bahwa sang paranormal memang punya kompetensi alami untuk mengatasi semua keluhan pasien. Semua penampilan dan aksesori itu telah memperjelas aura yang muncul dari tubuh sang paranormal.

Secara materi, semua aksesori dan penampilan itu tak berhubungan sama sekali dengan proses penyembuhan. Namun dampak yang muncul justru merupakan prasyarat yang diperlukan dalam proses penyembuhan. Tidak lain yang dimaksud adalah menyembuhkan sekitar 65 persen dari proses. Itulah yang dimaksud sugesti. Jadi ibarat di dunia kedokteran, itulah kepercayaan terhadap ucapan berupa nasihat atau jenis obat dari dokter atau kalangan paramedik dalam masyarakat Indonesia.

***

PROSESpemberian sugesti semacam itu biasa pula dilakukan dalam profesi atau kegiatan komunikasi untuk membangkitkan kepercayaan massa atau lawan bicara untuk mencapai maksud sesungguhnya. Cara semacam itu biasa dilakukan para guru di dalam kelas, para mubalig di forum, para penasihat hukum ketika membela, dan para legislator ketika berpidato politik.

Dengan kata lain, semua ungkapan sebagai sugesti itu merupakan saran bersifat “memaksa” untuk menimbulkan kebenaran yang semula bersifat subjektif atau relatif, sehingga menimbulkan efek kebenaran hakiki. Apa yang mula-mula dianggap sumbang saran atau sumbangan saran menjadi saran yang sumbang. Selama mengikuti program doktor, hampir semua peserta didik atau biasa disebut kandidat doktor melakukan jurus-jurus semacam itu di forum diskusi, yang di dunia ilmiah sering disebut konsep Efek Halo.

Jika ingin penjelasan lebih lanjut mengenai konsep itu, bacalah kutipan dari Google berikut ini. “Efek Halo adalah salah satu bias kognitif yang terjadi apabila kesan menyeluruh akan seseorang atau sesuatu yang didapat dari menggeneralisasikan salah satu karakteristiknya. Istilah ‘halo’ dalam efek ini berasal dari fenomena optik berupa lingkaran cahaya di sekitar matahari, bulan atau kadang-kadang pada sumber cahaya lain seperti lampu, yang menunjukkan kemiripan dengan generalisasi berlebihan.” Di dunia nyata dan media sosial zaman now sering muncul pula gejala berkomunikasi semacam itu. Wah, kita jadi meragukan tuh penampilan profesional di bidang sosial ekonomi atau hukum di Indonesia. Itu kalau hanya mengandalkan penampilan di forum diskusi.

Dalam bahasa Jawa, gejala semacam itu sering disebut gebyah uyah. Jangan-jangan para pembaca telah melakukan proses gebyah uyah atau bias kognitif setiap kali membaca obrolan saya di “Gayeng Semarang” ini.

Ya mangga. Apa yang sesungguhnya terjadi, ya wallahu’alam. Nah, kali ini, saya cukupkan sekian saja, tak terlalu banyak tebar pesona yang malah bisa menimbulkan efek bumerang menjadi sekadar obrolan ndobos. Sudah ya. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.(44)

Berita Lainnya