image
31 Desember 2017 | Ekspresi Suara Remaja

Dari Hore Heroes untuk Kaum Disabilitas

DIpanggung berukuran 10 x 3 meter itu Rafa (12) menyanyikan lagu “Ibu” yang dipopulerkan penyanyi Haddad Alwi. Kendati aksentuasi huruf “r”-nya kurang jelas, dia terlihat begitu menghayati. Melihat Rafa, penonton dibuat terkesima, sekaligus haru.

Selesai menyanyi, dua pembawa acara mendekati Rafa. Mereka bertanya benarkah Rafa baru saja berulang tahun yang ke-12. Meski benar, bocah polos itu malah tak mengiyakan. Penonton baru tahu jika Rafa betulan bertambah usia manakala kedua orang tuanya naik ke panggung dan memberi kejutan kue tart.

Dibantu panitia, Rafa pun meniup lilin. Rafa bukanlah anak biasa. Bocah kelas 5 SD itu ialah seorang tunanetra yang lahir dalam kondisi keluarga duafa. Di tengah keterbatasannya, ia tercatat sebagai penghafal Alquran. Keistimewaan Rafa tersebut membuatnya didaulat jadi salah satu pengisi acara dalam Pentas Apresiasi Disabilitas Semarang, Sabtu (23/12).

Bertempat di Halaman Balaikota Semarang, acara yang diselenggarakan Komunitas Muslim Sosial Hore Heroes ini berlangsung meriah. Setelah aksi Rafa, penonton dapat suguhan komedi tunggal dari Arif dan Jafar. Keduanya adalah penyandang tunanetra sekaligus anggota Komunitas Sahabat Mata.

Tanpa rasa minder, Arif dan Jafar menjadikan kondisi mereka sebagai materi stand-up comedy. Misalnya fakta bahwa ternyata bukan hanya masyarakat desa yang tidak merasakan listrik. Balaikota yang terletak di tengah kota pun, bagi Arif dan Jafar juga sama gelapnya.

Lelucon kemudian berlanjut. Bagi Jafar, jadi tunanetra ternyata ada enaknya. Pasalnya, seorang tunanetra yang, secara sengaja atau tidak sengaja, menabrak lawan jenis tidak akan kena marah lantaran akan dimaklumi. Selama 20 menit Arif dan Jafar saling melempar lelucon.

Sebagai penutup, keduanya berterima kasih karena masyarakat sudah mulai peka atas keberadaan “mereka”. Dari yang semula dijuluki orang buta, istilahnya kemudian diperhalus jadi tunanetra. Kini, masyarakat sudah mulai memakai kata pengganti yang lebih ramah: kaum disabilitas.

Terbesar Perdana

Pentas Apresiasi Disabilitas Semarang merupakan acara akbar pertama Hore Heroes sejak berdiri 17 September 2016 lalu. Idenya berasal dari kegiatan Hore Kurban, yang mempertemukan Hore Heroes dengan Rafa dan Komunitas Sahabat Mata.

“Dari situ kami lebih dekat dengan kawan-kawan disabilitas. Sebelumnya sasaran kami adalah anak-anak panti asuhan dan penghuni panti jompo,” tutur anggota Hore Heroes sekaligus ketua acara Pentas Apresiasi Disabilitas Semarang, Dhiyas Mareda.

Acara yang berlangsung September lalu itu membuka mata Hore Heroes bahwa sejatinya kaum disabilitas punya bakat yang bisa ditampilkan. Beruntung, Dhiyas mengatakan, tak sulit mengajak kaum disabilitas untuk berani unjuk gigi. “Ini momentum yang pas karena Desember adalah perayaan Hari Disabilitas Nasional.

Pada bulan ini teman-teman disabilitas biasa tampil dari satu acara ke acara lain,” kata Dhiyas yang merupakan mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Semarang itu. Selama satu setengah bulan Hore Heroes menggodok konsep.

Khusus untuk pentas apresiasi tersebut, komunitas ini bahkan membuka perekrutan sukarelawan. Perekrutan itu tak lain agar tiap-tiap penampil bisa didampingi satu panitia (liaison officer atau LO) Kerja keras Hore Heroes terbayar ketika mereka berhasil menggandeng beberapa komunitas untuk jadi pengisi acara.

Selain Rafa dan Sahabat Mata, tercatat ada peragaan busana dari Rumah Pintar Anak Berkebutuhan Khusus Gangguan Pendengaran Efata serta penampilan musik dari Komunitas Motor Penyandang Cacat (Compac). Komunitas serupa dari luar Semarang pun ikut ambil bagian.

Sebutlah Braille Star dari Malang, Eyekustik dari Solo, dan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) dari Jakarta. Dhiyas berharap acara yang ditutup dengan drama musikal dari Sahabat Mata ini bisa bermanfaat bagi berbagai pihak.

“Dengan berkesempatan tampil, mereka akan punya keyakinan bahwa masyarakat mengapresiasi. Selain itu, mereka bakal makin percaya diri,” ujar Dhiyas. Pentas Apresiasi Disabilitas Semarang sekaligus mengingatkan kembali konsep inklusif.

Keberadaan kaum disabilitas tidak selayaknya menimbulkan rasa canggung hanya karena kebanyakan orang tidak tahu cara memperlakukan mereka. Sebaliknya, konsep inklusif berarti adanya kesadaran masyarakat untuk memberi perlakuan yang sama, terbuka, dan ramah pada kaum disabilitas sebagaimana mereka berbuat ke orang lain.(63)
Sofie Dwi Rifayani