image

Foto: Istimewa

30 Desember 2017 | 00:54 WIB | Liputan Khusus

Mencegah Penyakit Menular Seksual (PMS) Pada Remaja

suaramerdeka.com- Penyakit menular seksual (PMS) merupakan penyakit yang ditularkan dari orang ke orang melalui semua jenis kontak seksual tanpa pengaman baik itu melalui vagina, anus, maupun mulut (oral). Sarana penularannya yaitu darah, sperma, atau cairan vagina maupun cairan tubuh lainnya. Selain melalui kontak seksual, beberapa PMS juga bisa ditularkan secara non-seksual, seperti penularan dari ibu ke bayi selama masa kehamilan atau ketika melahirkan, melalui transfusi darah atau akibat berbagi jarum suntik.

Banyak orang tidak menyadari dirinya memiliki PMS, karena memang PMS tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas dan gejala seringkali baru tampak setelah kondisi menjadi parah. Secara global, kasus PMS lebih sering terjadi pada kalangan muda (usia remaja). Ini terkait perilaku seks bebas yang semakin umum saja di kalangan remaja. Peningkatan perilaku seks bebas ini juga terkait dengan peningkatan kasus kehamilan yang tidak diinginkan yang pada akhirnya berujung aborsi. Secara umum, siapapun yang telah aktif secara seksual berisiko terkena PMS.

Menurut Dokter Umum RS Columbia Asia Semarang, dr. Ali Mufis, saat ini kasus PMS cukup banyak terjadi di kalangan remaja dan tentunya berbagai jenis PMS sangat berpengaruh pada tingkat kesehatan seseorang pada umumnya serta kondisi kesehatan reproduksi pada khususnya, karena berbagai penyakit PMS berkaitan langsung dengan sistem reproduksi manusia. Bahkan penyakit PMS ada yang dapat berdampak pada kematian.

“Jadi PMS ini kata kuncinya adalah harus ada hubungan seksual tanpa alat pengaman, karena memang PMS ditularkan melalui suatu hubungan seksual. Kasus PMS pada remaja saat ini sudah mulai meningkat dikarenakan faktor gaya hidup remaja yang dipengaruhi pengaruh berbagai media (baik online maupun elektronik) yang dikonsumsi oleh remaja, diperparah dengan kondisi remaja yang berada pada fase labil atau ingin mencoba sesuatu yang baru sehingga kecenderungan hubungan seksual diluar nikah bagi remaja meningkat,”terangnya.

PMS sangat populer terutama bagi masyarakat yang tinggal di kota besar. Mengapa, logikanya dengan semakin tinggi peradaban manusia, seharusnya berbanding lurus semakin tinggi pula tingkat kesadaran akan kesehatan masyarakat. Namun yang terjadi justru sebaliknya, pergaulan yang begitu luas dan bebas serta adanya fenomena gaya hidup modern, melakukan apa saja dengan resiko yang tidak tanggung-tanggung berupa terjangkitnya penyakit menular yang dapat merenggut jiwa penderita.

“Apalagi remaja, mereka menjadi lebih berisiko terkena PMS jika melakukan hubungan seksual terlalu dini, hal tersebut dikarenakan semakin dini usia seorang remaja melakukan hubungan seksual pertama kali, masa keaktifan seksnya pun juga semakin lama sehingga mereka cenderung bergonta-ganti pasangan seks. Kemudian, pada tubuh remaja perempuan, secara biologis lebih rentan PMS. Serviks (leher rahim) remaja perempuan belum sepenuhnya matang sehingga rentan terhadap organisme tertentu yang menjadi penyebab PMS,”terangnya.

Hal tersebut diperparah dengan semakin banyaknya remaja yang cenderung melakukan hubungan seks tanpa kondom. Seringkali, ini disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya kondom. Selain itu, kebanyakan remaja tidak terbuka dan jujur bahwa ia telah melakukan hubungan seks sehingga ia enggan melakukan pemeriksaan PMS. Ditambah lagi dengan maraknya prostusi pelajar/mahasiswa yang memberikan iming-iming uang yang banyak dengan kerja yang mudah.

“Ada banyak macam penyakit yang bisa digolongkan sebagai PMS. PMS ada yang disebabkan oleh bakteri, virus ataupun parasit. Di Indonesia, yang banyak ditemukan saat ini diantaranya gonorrhea (GO), sifilis (raja singa), HIV Aids, herpes genital, klamidia, kutil kelamin, trikomoniasis vaginalis, kandidiasis vagina dan masih banyak lainnya. Kebanyakan yang sering diderita adalah gonorrhea (GO), pada penyakit ini kuman penyebabnya adalahNeisseria Gonorrhoeae,”terangnya.

Gejala

Tanda-tanda penyakit (GO) adalah nyeri, merah, bengkak dan bernanah. Gejala pada laki-laki adalah rasa sakit pada saat kencing, keluarnya nanah kental kuning kehijauan, ujung penis tampak merah dan agak bengkak. Pada perempuan, 60% kasus tidak menunjukkan gejala. Namun ada juga rasa sakit pada saat kencing dan terdapat keputihan kental berwarna kekuningan. Akibat penyakit (GO), pada laki-laki dan perempuan, seringkali berupa kemandulan. Pada perempuan bisa juga terjadi radang panggul, dan dapat diturunkan kepada bayi yang baru lahir berupa infeksi pada mata yang dapat menyebabkan kebutaan.

Secara umum, gejala utama yang diderita jika seseorang terjangkit PMS adalah sebagai berikut : pada laki-laki, biasanya akan timbul bersamaan dengan gejala infeksi saluran kencing, nyeri saat kencing, sudah kencing tetapi belum tuntas, berasa panas pada kemaluan, bisa juga terjadi nyeri pinggang, keluar secret (mirip air mani) dengan aroma busuk dengan warna putih kekuning-kuningan. Sedangkan pada wanita, akan timbul nyeri dan gatal di daerah kelamin, keluar keputihan yang berbau busuk, ada bercak hitam di selangkangan dan adanya bintil-bintil berisi cairan, lecet atau borok pada alat kelamin.

“Untuk penegakan diagnosisnya, saat pasien datang dokter akan melakukan anamnesa (serangkaian wawancara mendalam) kapan gejala itu mulai muncul, hal-hal yang mendahului sebelum gejala muncul, kemudian riwayat penyakit terdahulu, apa sebelumnya pernah menderita gejala serupa. Dari riwayat sosial, ditanyakan pekerjaannya apa, misalnya apa berkerja sebagai PSK / sering berpergian (sebagai supir / pelaut) sehingga memiliki faktor resiko yang tinggi. Jika perlu, akan dilaksanakan pemeriksaan penunjang seperti cek darah dan cek urin, bisa juga secret tadi diperiksa di laboratorium sehingga akan jelas apa jenis PMS nya,”terangnya.

PMS dapat diobati, satu-satunya cara adalah segera berobat ke dokter, diperiksa kemudian diberikan terapi obat-obatan yang sesuai dengan jenis PMSnya. Jika Anda terkena PMS, pasangan Anda juga harus diperiksa dan diobati, jangan hanya mengobati diri sendiri. Patuhi cara pengobatan sesuai petunjuk yang diberikan oleh dokter untuk memastikan kesembuhan. Hindari hubungan seksual selama masih ada keluhan/gejala dan bila Anda hamil, segera beritahukan dokter.

“Sedangkan pencegahannya bagi remaja agar tidak terkena PMS adalah dengan menghindari hubungan seksual sebelum menikah, melakukan kegiatan-kegiatan positif agar tidak terlintas untuk melakukan hubungan seksual, mencari informasi yang benar dan sebanyak mungkin tentang resiko tertular PMS, meningkatkan ketahanan moral melalui pendidikan agama, mendiskusikan dengan orang tua, atau teman mengenai hal-halyang berkaitan dengan perilaku seksual,”terangnya.

Kemudian, bersikaplah tegas untuk menolak ajakan pasangan yang meminta untuk melakukan hubungan seks, mengendalikan diri saat bermesraan dan bersikap waspada jika diajak ke suatu tempat yang sepi dan berbahaya. Ditambah lagi keaktifan peran pemerintah, orang tua, guru dan masyarakat juga penting untuk aware memberikan pendidikan seks sejak dini kepada anak-anaknya.

Jika ditarik kesimpulan, pada intinya PMS menyebabkan infeksi alat reproduksi yang harus dianggap serius. Bila tidak diobati secara tepat, infeksi dapat menjalar dan menyebabkan penderitaan, sakit berkepanjangan, kemandulan dan kematian. Buat remaja perempuan, perlu disadari bahwa resiko untuk terkena PMS lebih besar daripada laki-laki sebab alat reproduksi perempuan lebih rentan dan seringkali berakibat lebih parah karena gejala awal tidak segera dikenali. Sekali lagi, hindari hubungan seks sebelum menikah dan jaga higienitas diri sehingga tidak rentan tertular PMS.

 

(Setiawan Hendra Kelana /SMNetwork /CN39 )