image

BERAGAM EDUKASI : Beberapa kegiatan dari Komunitas Pawon Literasi, di antaranya perpustakaan jalanan, perpustakaan anak, sekolah menulis, baru-baru ini. (suaramerdeka.com / dok)

12 April 2018 | 19:10 WIB | Profil

Berani Mengkreasi Perubahan

  • Komunitas Pawon Literasi

SEMARANG, suaramerdeka.com - Mengusung nama Pawon yang berarti tempat untuk memasak, sebuah komunitas yang bergerak di bidang literasi dibentuk. Komunitas Pawon Literasi (KPL) ibarat dapur yang menyediakan berbagai ilmu yang berasal dari buku.

”Hal itu sesuai dengan makna filosofi lambang KPL, yaitu bangunan rumah (pawon) dengan buku terbuka di dalamnya. Selain itu, bentuk logo kotak memiliki makna kuat yang memberi kesan rasionalitas, kejujuran, dan kestabilan. Latar belakang merah pun dipilih sebagai identitas semangat dan keberanian untuk membangun perubahan,” kata Ketua KPL, Musa Al Murtadha, ketika ditemui di Menara Suara Merdeka Lt 9, kemarin.

Didirikan pada 21 Maret 2017, KPL bermula dari sekumpulan mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), yang ingin mengampanyekan budaya membaca di lingkungan kampus. Organisasi independen mandiri itu, mengusung konsep perpustakaan jalanan.

Tidak hanya mengampanyekan budaya membaca, KPL juga mengampanyekan menulis dan berdiskusi. Beragam buku tersedia di Perpustakaan Jalanan KPL Jl Pancakarya Blok 49/415, Rejosari, Semarang Timur, mulai dari filsafat, agama, sosial politik, hingga biografi tokoh dunia.

(Red /Dini Failasufa /Aristya Kusuma Verdana /SMNetwork /CN26 )